3 Varian Baru Virus Corona yang Buat Pusing Ilmuwan Dunia

Health Internasional

Ketika jumlah kasus Covid-19 mulai melonjak lagi di Manaus, ibukota negara bagian Amazonas, Brasil , pada akhir Desember 2020, kening Nuno Faria berkernyit. Ahli virologi di Imperial College London dan associate professor di University of Oxford itu baru saja menulis laporan yang memperkirakan dua per tiga penduduk kota di Brasil sebelah utara itu telah terinfeksi SARS-CoV-2, virus corona penyebab Covid-19.

Jumlah itu diperkirakannya lebih dari cukup untuk menciptakan kekebalan komunitas atau herd immunity. Selesai sudah urusan Covid-19 di Manaus, begitu perkiraan Faria dkk. Tapi, yang terjadi adalah rumah sakit-rumah sakit di sana kembali membeludak dengan pasien penyakit infeksi yang sama. “Sulit memahaminya,” kata Faria.

Dia lalu memulai kembali pengumpulan sampel dari para pasien terbaru. Dia melakukan sekuensing untuk mencari tahu apakah perubahan pada virus di balik merebaknya kembali Covid-19 di Manaus.

Pada 12 Januari 2021, Faria dan koleganya mengunggah kesimpulan awal dari studi terbarunya itu di website virological.org. Mereka menemukan 13 dari 31 sampel yang dikumpulkan dari Manaus pada pertengahan Desember lalu adalah bagian dari turunan mutasi baru yang disebut P.1. Diduga, varian baru virus corona itu mampu memperdaya respons imun tubuh pada beberapa orang yang sudah terbangun pasca gelombang wabah sebelumnya.

Varian baru virus corona telah menghiasi banyak pemberitaan sejak para ilmuwan memperingatkan tentang keberadaan B.1.1.7, jenis SARS-CoV-2 yang lebih menular di Inggris pada Desember lalu. Kini, fokus ditambahkan kepada potensi ancaman baru: varian yang bisa mengelak dari respons imun tubuh.

Dalam pertemuan di Badan Kesehatan Dunia (WHO) 12 Januari, ratusan peneliti mendiskusikan pertanyaan ilmiah paling penting yang dibawa oleh gelombang mutasi baru SARS-CoV-2 tersebut. WHO juga mengumpulkan Komite Kedaruratan Covid-19 dua hari kemudian untuk membahas dampak dari varian-varian baru virus corona itu dan pembatasan penerbangan atau perjalanan yang telah dibuat banyak negara untuk mencegah penyebarannya.

Komite itu menyerukan upaya global untuk sekuensing dan berbagi lebih banyak genom SARS-CoV-2 untuk bahu membahu melacak mutasi-mutasi yang ada. Mereka juga meminta negara-negara mendukung apa yang mereka sebut, “Riset global untuk memahami lebih baik informasi kritikal yang belum diketahui dari varian dan mutasi spesifik SARS-CoV-2.”

Varian yang lebih menular, B.1.1.7, diketahui telah menyebar cepat di Inggris, Irlandia, dan Denmark dan kemungkinan banyak negara lainnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah merilis studi pemodelan pada Jumat lalu yang menunjukkan B.1.1.7 bisa saja menjadi varian dominan virus corona Covid-19 di negara itu per Maret nanti.

Tak kalah mencemaskan adalah 501Y.V2, varian lain lagi yang terdeteksi di Afrika Selatan. Beberapa mutasi yang dibawanya, yakni E484K dan K417N, telah mengubah protein paku si virus–bagian yang digunakan virus corona untuk menginfeksi sel. Di laboratorium, perubahan itu terbukti memandulkan kemampuan antibodi monoklonal dalam memerangi virus.

Dalam draf laporannya yang muncul awal bulan ini, Jesse Bloom, seorang ahli biologi evolusi di Fred Hutchinson Cancer Research Center, menunjukkan E484K juga mengurangi potensi sera konvalesen dari beberapa donor hingga 10 kali lipat. Bloom menambahkan catatannya, belum tentu kekebalan tubuh juga menjadi berkurang 10 kali lipat karenanya.

Penemuan P.1 menambah kecemasan yang ada karena varian ini muncul di daerah dengan level imunitas yang tinggi. Dia juga membawa mutasi E484K seperti yang ada pada varian temuan di Afrika Selatan. “Kapanpun Anda melihat mutasi yang sama berkembang dan mulai menyebar berkali-kali, dalam galur virus yang berbeda di seluruh dunia, itu adalah bukti kuat ada beberapa keuntungan evolusi dari mutasi-mutasi itu,” kata Bloom.

Seperti halnya B.1.1.7, varian yang teridentifikasi di Manaus pun telah menyebar. Tepat ketika Faria menyelesaikan analisisnya atas genom mutasi yang terjadi di Brasil itu, sebuah laporan menyebut P.1 ditemukan pada warga Jepang yang baru kembali dari Brasil.

Bagaimana varian-varian baru itu mengendalikan pandemi saat ini belum jelas benar. Di Manaus, misalnya, epidemiolog Oxford Oliver Pybus mengatakan, P.1 mungkin saja tidak ada kaitannya dengan gelombang baru wabah Covid-19. Mungkin saja, kata dia, kekebalan tubuh orang-orang yang sedang melemah.

Dalam pernyataannya, Mike Ryan dari WHO mengatakan perilaku orang-orang masih menjadi faktor utama kebangkitan wabah. Menurutnya, terlalu mudah jika hanya menyalahkan kepada varian-varian baru virus corona dan mengatakan kalau mereka sebagai penyebabnya. “Sayangnya, ini juga tentang apa yang tidak kita lakukan sehingga wabah kembali muncul,” katanya.

Dalam perkembangan terbaru, Senin 18 Januari 2021, Menteri Kesehatan Brasil Eduardo Pazuello membantah merebaknya kembali Covid-19 di Manaus terkait dengan varian baru virus. Sebaliknya, dia meyakini masih sama dengan virus corona di gelombang pertama wabah yang telah mengoyak kota itu tahun lalu.

Sumber : Tempo.co